Senin, 04 Mei 2015

Jiwa Dalam Goresan Tinta

Nih aku ada cerbung horror...
Tapi bukan buatanku...
Ini buatan kakakku...
Happy Reading guys...

Oleh : Ika Listya Mahanani : hanakurizuka.blogspot.com

    Takkan ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Jika kita mau mengerti, tidak ada yang pasti di dunia ini. Segalanya bisa saja berubah tanpa kita sadari. Hanya satu hal yang harus kita percaya, tidak ada yang tidak mungkin.
13 Juni 1962
    Aku menemukan untaian kata itu di dalam secarik kertas, terselip pada buku tahun 60-an yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sekolahku. Buku tanpa judul ini menimbulkan sejuta pertanyaan di benakku. Ku temui buku ini hanya ada satu. Itupun sudah tampak lusuh, seperti sudah tidak pernah dipinjam lagi oleh seseorang. Ku coba membuka buku itu dari halaman awal. Tulisan yang ada di dalamnya seperti bukan diketik, tetapi menggunakan goresan tinta dengan gaya tulisan zaman bahula. Aku pun mulai membaca. Namun entah kenapa tiba-tiba aku....

    Aku melihat beberapa orang menjalani kesibukannya. Mereka, dengan memakai pakaian yang sangat rapi, menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang datang. Tanpa aku sadari, aku berada di sebuah tempat dimana begitu asing bagiku. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat sosok gadis kecil yang tampak begitu sedih. Aku menghampiri gadis itu. Namun ketika aku berusaha menyapa, ia menampakkan sorot wajah kebencian padaku.

 “Kamu?!! Kenapa kamu kesini?!! Kembalikan ibuku!!! Kembalikan!!” Gadis kecil itu menjerit histeris pa/!daku. 
“Ayah.... dia datang! Pembunuh itu datang!!”, teriak si gadis kecil.
Aku semakin tidak mengerti.
“Eee... pembunuh? Siapa yang pembunuh?”, aku pun mulai memberanikan diri bertanya. Tetapi ayah gadis kecil itu tampak semakin marah.
 “Heehh.. ku bunuh kau!! Ku bunuh kau!!” Dia mencekik leherku begitu erat sampai membuatku menjerit menahan sakit.

    Aku menghempaskan buku tak berjudul itu sampai ke sudut meja. Aku masih tidak percaya ini semua. Sekarang aku sudah berada di kamarku. Sekujur tubuhku dipenuhi keringat dingin. Tiba-tiba,aku melihat gagang pintu memutar dengan sendirinya. Jantungku seketika berdetak kencang, lebih kencang. Dan....
“Sayang, makan dulu sana. Mama tunggu di bawah.”
Aku mengambil nafas dalam-dalam seraya membuangnya. Aku segera merapikan meja belajarku dan menuju ke bawah.
“Lama banget sih,Ra! Semuanya udah pada nunggu tau!”, omel Kak Hendra.
“Mmm.... sorry deh,Kak.”, jawabku.
“Kamu kenapa keringetan kaya gitu? Abis ngapain aja sih di kamar?”, celetuk Kak Hendra lagi.
“Udah,udah. Jangan pada ribut. Ayo makan.”, ajak Mama.
Baru saja aku memulai suapan yang pertama, tiba-tiba Papa yang sedari tadi diam, angkat bicara.

“Oh ya, Ma. Dengar-dengar, sekarang ini banyak berita beredar soal pembunuhan. Dan katanya, modusnya ya pengen ngambil hati si korban untuk dijual.”
Aku sontak teringat dengan kejadian tadi pagi.
“Kalau memang begitu ya kita harus lebih waspada, Pa! Hendra, Maura, kalian juga gak usah keluar larut malam. Apalagi Maura, sama gengnya itu. Gak usah diulangi ya nak! Gak baik, anak cewek kok pulangnya malam-malam.”
“Tau tuh! Maura emang kaya gitu,Ma. Gayanya aja sok-sokan. Pasalnya mau berburu hantu lah.”
“Ihh... kakak! Apaan sih?!”
“Husst! Udah ah. Jangan bertengkar terus. Kaya anak kecil aja.”, kata Mama sedikit gaul.
“Iya nih! Mama juga. Kok jadi gahol gitu sih?”, goda Papa.
Semua pun tertawa.

“Sayang, Papa punya film bagus nih!”
“Film apa, Pa? Jangan yang enggak-enggak, Pa. Hendra masih suci.”, kak Hendra ngebanyol.
“Hendra... Hendra. Dasar.”, kata Mama.
“Adikmu mana, Hen?”, tanya Papa.
“Tuh, di kamar.”
    Sementara mereka asyik bercanda ria, aku masih sibuk sendiri di kamar. Aku kemudian membuka buku itu.
“Sampai di mana tadi?”, tanyaku.
Aku membolak-balik buku seraya mencari batas halaman.
“Nah, ini dia.”
“Aku masih nggak ngerti. Apa yang terjadi dengan si gadis kecil? Dan apa yang membuatnya benci sama aku?”
Aku mulai meneruskan bacaanku.

Ciit...
Suara pintu terbuka..
“Sayang, kamu nggak ikut nonton? Filmnya bagus lho..!”, bujuk Mama.
(Hanya terjawab oleh gelengan kepala yang menunduk)
“Ya, udah.”, kata Mama, kemudian menghampiri Maura.
“Nak.... kamu kenapa dari tadi kok.....Aaaaa!!”
Mama Maura terkejut mengetahui bahwa yang diajak bicara sedari tadi bukanlah anaknya.Melainkan sosok gadis seumur Maura yang wajahnya telah hancur.

    Aku diam seribu bahasa. Arah pandangan semua orang tertuju padaku. Sorot matanya begitu tajam. Aku seolah-olah musuh bagi mereka semua.
Takk!! Sebuah batu mengenai kepalaku.
“Pembunuh sialan! Berani-beraninya kau menampakkan wajahmu disini?!”, caci seseorang.
“Dasar tidak tau malu! Keparat!”, timpal seseorang yang lain.
“Bagaimana kalau kita bunuh saja orang ini?”, usul beberapa orang yang lain.
    Dalam keadaan seperti ini aku bingung harus berbuat apa. Tak ada jalan lain selain pergi dari kepungan mereka. Aku berusaha lari menjauh dari kerumunan sementara mereka dengan senjatanya terus saja melukaiku.

 “Ada apa, Ma?”, Papa langsung menghampiri Mama.
“E...e..itu..”, jawab Mama masih tidak percaya.
“Ada apa sih, Maura?”, tanya Kak Hendra.
“Nggak tau..”
“Mama kenapa sih? Kok kayaknya ketakutan gitu? Disini kan ada Maura.”, Kak Hendra.
“Mungkin Mama kamu kelelahan. Dia butuh istirahat.”, Papa menimpali.
“Ya udah deh. Aku mau nglanjutin filmnya dulu”, celoteh Kak Hendra.
Papa lalu mengantar Mama ke kamarnya.
Sesampai di  ruang keluarga...
“Kak, Kak Hendra... tolong aku...Mereka semua ingin membunuhku”, tampak wajahku keluar di layar televisi. Kak Hendra pun terkejut
“Loh?? Tadi filmku...?? Kok jadi kaya gini? Pa...Papa..!!”
“Ya... ada apa?”
“Pa... coba lihat! Itu Maura kan, Pa?”
“Maura? Bagaimana bisa? Bukannya adikmu itu di kamar?”
“Pa... coba lihat lagi. Di tv itu, Maura pakai kalung Mama. Itu Maura, Pa”
“Kalau itu memang Maura, lalu yang di kamar tadi siapa?!”, tanya Papa kebingungan.
“Au ah, Pa! Aku mau tidur aja. Aku udah ngantuk. Mungkin kita salah liat”
    Ctett. Papa pun mematikan tv. Sementara sosok gadis sepertiku berhenti memperhatikan televisi yang sedari tadi ditatapnya lekat-lekat di atas tangga, seakan sorot matanyalah yang membuat adegan tadi muncul.
    Kak Hendra menuju kamarnya. Kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamarku. Namun, ketika ia sampai di depan pintu kamarku, seketika sekujur tubuhnya mendadak kaku. Sekelebat bayangan melintas di belakangnya. Rasa takut pun mulai muncul. Tak ada sepatah katapun yang dapat ia katakan selain bergegas lari ke kamarnya. Wiiiing....Jderrr!!!
“Hendra...Hendra... ku mohon tenangkan dirimu. Oke fix.”, katanya mencoba menghibur diri.
“Di malam yang sesunyi ini... aku sendiri... tiada yang menemani... Hanya di...”, nyanyian Kak Hendra seketika terhenti saat ia mendengar suara... CIIIITT.. Pintu terbuka dengan sendirinya.
“Ma... Mama! Ah, Mama nggak lucu ah! Kok aneh sih?” perlahan ia mendekati pintu untuk memastikan apakah benar itu Mama. Dan ternyata...
“Eh, Maura! Kok belum bobo? Ini kan udah malem”, Kak Hendra.
    Kak Hendra bingung karena tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh sosok sepertiku. Sampai-sampai Kak Hendra jengkel dan pergi meninggalkannya tidur. Langkah kaki sosok tersebut semakin pasti untuk mendekati Kak Hendra. Entah apa yang akan dilakukannya, perlahan tangan itu menuju leher kakakku seakan-akan ingin mencengkeramnya. “Aaaa...”, teriak Kak Hendra, tapi anehnya teriakan Kak Hendra hanya tertahan di mulutnya. Tatapan sosok itu semakin tajam, menyiratkan amarah. Hal itu memaksa Kak Hendra untuk menyingkirkan sosok tersebu dari tubuhnya. Tangan Kak Hendra hanya dapat meraba-raba untuk mengambil sebotol tinta yang kemudian dilemparkannya ke tubuh sosok tersebut. “Aaaaa....!!!1”, suara sosok itu yang kemudian menghilang, menyisakan tumpahan tinta hitam milik Papa.
Blaasst...
    Aku kembali pada duniaku. Kak Hendra bingung dan tidak percaya. Akuu terlihat pucat dan tak berdaya. Seluruh tubuhku berlumuran darah.
“Maura...? Maura! Kamu baik-baik aja kan?”
Belum sempat aku menjawab, penglihatanku mulai kabur hingga aku tak sadarkan diri.

“Maura... Maura...”
Suara itu membuatku terbangun.
“Kevin?”
“Kamu kenapa? Aku telfon nggak diangkat”, Kevin cemas.
    Aku terdiam sejenak. Aku melihat Kak Hendra dengan wajah penuh tanya. Tiba-tiba Kak Hendra berdiri.
“Kevin tolong jagain Maura. Gue mau keluar bentar”, katanya masih menyiratkan wajah penuh tanya. Aku masih memandanginya sampai ia pergi.
“Maura...”, Kevin memanggilku.
“Iya..”
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
Aku pun diam.
“Aku nggak yakin dengan apa yang telah dikatakan Mamamu. Katanya kamu jatuh dari tangga lah, trus mental ke kaca sampai kacanya pecah lah...”, Kata Kevin masih terus menatap mataku, seolah-olah ingin mendapatkan kebenaran dari sorot mataku.
Aku mulai berbicara.
“Ceritanya panjang. Tadi pagi aku pinjem buku dari perpus. Buku itu cuma ada satu. Anehnya lagi, buku itu belum dikasih judul. Sepertinya penulis begitu tergesa-gesa sampai dia lupa ngasih judul.Aku juga nemuin secarik kertas di dalamnya.
“Secarik kertas?”
“Hu’um. Dan saat aku membaca buku itu aku sudah berada di era lain, bukan di era kita sendiri. Kira-kira era 60-an. Seperti yang tertera pada secarik kertas itu. Semenjak itu lah, aku bertemu dengan orang-orang yang aneh. Mereka selalu mengataiku pembunuh, sedangkan aku sendiri bingung, siapa pembunuh yang mereka maksud?”
Kevin mengerutkan keningnya.
“Kamu pasti mikirnya aku ngada-ada. Iya, kan”, tanyaku sengit.
Kevin hanya bisa tersenyum mendengar pernyataanku.
“Nggak juga sih. Eh, besok kamu masuk kan?”
“Maybe”
“Kalau gitu, buku itu sekalian kamu bawa deh! Sama secarik kertas yang ada di dalemnya. Aku mau liat.”
“Boleh, boleh”
Tak ku sadari, Kak Hendra sedari tadi sengaja mendengarkan pembicaraanku dengan Kevin dibalik pintu.

    Di kursi taman, Kevin terus  saja tersenyum memandangiku entah kenapa. Aku jadi bingung sendiri menghadapinya.
“Kevin! Kamu kenapa sih? Dari tadi kok senyum-senyum sendiri?” #salting.
“Nggak apa-apa kok! Kamu cantik aja”
“Ha? Apa?”
“Nggak jadi. Mmm... mana bukunya?”
“Nih”
“Ni buku jadul banget ya? Ihh.. serem lagi covernya. Nggak ada sinopsisnya?”, sambil membolak-balik cover depan belakang.
Aku menggelengkan kepala.
“Payah! Buku ini pantesnya dibuang...”, belum sempat  Kevin membuang buku, dia menemukan secarik kertas jatuh dari buku itu. Kemudian ia membacanya.
“Ini yang kamu maksud?”
“Ya”
“Ya udah deh! Aku pinjem aja buku ini. Aku penasaran sama isinya.”
Kevin menyelipkan kertas tadi ke dalam buku asalnya.

    Malam ini begitu sepi. Gelap. Tak ada satupun cahaya di langit. Angin dengan mudahnya menyusup ke dalam kamarku. Sementara waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba ponselku berdering. Belum sempat ku lihat nama si penelpon, segera saja ku angkat.
“Halo..”
(hening)
“Haloooo” (masih saja hening)
“Ee... hai.. ini siapa?”
“Aku di belakangmu......”, suara di seberang membuatku terkejut.
“Aaa!!!”, belum sempat aku menoleh ke belakang, aku langsung saja teriak saking takutnya. Namun tak lama, aku mendengar suara tawa dari seseorang yang sepertinya aku kenal.
“Haha.. gitu aja takut”
“Kevin?”
“Iya sayangku...”
“Huh, apaan sih? Nggak lucu tau!”
“Hahaha iya deh, sorry... Udah maem belum?”
“Udah dong... dari tadi..”
“......” (Buku tanpa judul itu membuka sendiri tiap-tiap lembarnya)
“Kevin!”
“E, iya?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja. Bobo yuk!”
“Ayo..” :-/ aneh
“Met bobo... moga mimpi indah... muuach”
    Aku langsung menghentikan percakapan karena mataku sudah tidak tahan lagi ingin segera tidur.
“Dimana bukunya?”, Kak Hendra berdiri di ambang pintu memperhatikan meja belajarku yang sudah tidak ada lagi buku tanpa judul yang ingin dibacanya.

    Kevin mendekati buku misterius yang dia taruh di atas meja komputernya. Dia dapat melihat semakin jelas bahwa buku tersebut dapat membolak-balik halaman sendiri seakan-akan meminta Kevin untuk membacanya. Kemudian lembaran-lembaran itu berhenti bergerak, berhenti pada halaman tertentu. Perlahan Kevin mengambil buku itu dan mulai membacanya.
Blaasstt....
    Sebuah ruangan kosong. Hanya piano dan cermin yang dapat mengisi ruangan itu. Entah mengapa, penglihatan Kevin hanya terpaku pada piano. Raganya terasa tertarik untuk mendekati piano. Dia pun mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang pernah dimainkan oleh seseorang yang tak dikenalnya. Lagu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Namun tangannya seolah memaksanya untuk memainkan lagu itu. Tiba-tiba seorang wanita dewasa menemuinya.
“Kakak tahu ini salah Samantha, bukan salahmu. Aku mohon kuatkanlah hatimu.” Wanita itu memeluk Kevin, membuat Kevin tidak mengerti...
Siapa wanita ini? Siapa pula Samantha?, bisiknya dalam hati.
 Setelah wanita itu pergi meninggalkannya, dia mencoba bercermin pada sebuah cermin besar di ruangan itu. Dan apa yang dilihatnya... adalah seorang gadis cantik berwajah Belanda, bukan dirinya sendiri.
“Apakah ini yang telah dialami Maura?”
To be continue.....
    

Lyrics 200 Miles

Just speed it up Don’t be afraid
Run Run Get it start
Let everything be washed away
Calling to the clouds ahead
Sprinting more, more Highway

To match the Speed gun, the continuous Crooked street
The unening Cross road, the ripping wind rises up
Going above the clouds in a breath
Freedom is in my hands, Speed up Speed up Speed up
Just speed it up Don’t be afraid
Run Run Get it start
Let everything be washed away
Calling to the clouds ahead
Sprinting more, more Highway
The intruding Headwind, the inviting Traffic light
The engine sound coming out putting your senses to sleep
To give you a wake up call, no one can stop it
Speed up Speed up Speed up
Just speed it up Don’t be afraid
Run Run Get it start
Let everything be washed away
Calling to the clouds ahead
Sprinting more, more Highway
The hot Autobahn
Don’t Stop Never Mind
Run towards the light, Exceed the limits of you

Just speed it up Don’t be afraid
Run Run Get it start
Let everything be washed away
Calling to the clouds ahead
Sprinting more, more Highway

THE ARROGANT RABBIT


        Once upon a time , there lived some animals in the woods . Among them are the turtle and rabbit are very arrogant . Rabbit was  very hated his friends . One day , the rabbit saw turtle were running around . Then the rabbit said arrogantly , " Huh ! You running very slow " . " I'm not walk, but I ran " , said the turtle . " That's the name walk , if it ran like this ," running rabbits showed his proficiency . " How arrogant you .. What if we hold a race ? " Pleaded turtle . " Mmm  okay . I got two feet long, white, and smooth . So I certainly can beat you . Tomorrow we play here, here, here " , as he ran toward the places that would be the race area . "
        The next day, the rabbit and the turtle was getting ready in the arena. There was also a cat, chicken, deer and bear. Bear, the referee, blew the whistle as a sign of the start of the match. Rabbit left immediately raced the turtle to the extent that the tortoise was left behind so far. But turtle  unyielding. Turtle trying to win the  game .  Increasingly, the rabbit ran away. Until he was tired, and then he rested for a while under a tree while waiting for the turtle. With a light breeze blowing, the rabbit was asleep. Meanwhile, the turtle have b Hearing the cheers the spirit of the comrades for the tortoise, hare awoke. He immediately ran to catch the turtle. When stepping on the finish line, the referee confusion to determine the winner because they both stepped on the finish line simultaneously. Finally, the referee asked for chicken, as a photographer, winner of the outcome of the photo has been taken. And it turns out.... the winner is the tortoise. Rabbit were disappointed to hear it.


Moral  : Don’t be someone arrogant because arrogance will never bring good.

Pangantènan adat Jawa

Upacara pengantenan adat Jawa iku salah siwijiné upacara sakral adat Jawa sing nduwé rantaman upacara lan tata cara sing wis pakem. Upacara pengantenan iki nglambangaké pepanggihan antarané pengantèn putri lan penganten kakung neng kahanan sing kusus kadosdéné raja lan ratu.
Padatan, rantaman inti upacara diselenggarakake neng dalemé pengantèn putri, sing dadi pamangku gati yaiku
 wongtuautawa kaluwarga pengantèn putri nanging tetep dibantu déning kaluwarga saking pengantèn kakung.
Rantaman adicara pengantènan adat Jawa ing saben dhaérah béda miturut ekonomi saben kaluwarga.
Upacara-upacara pengantèn adat Jawa antarané:
·         1 Siraman
·         2 Srah-srahan
·         3 Upacara panggih
·         4 Upacara balangan suruh
·         5 Upacara wiji dadi
·         6 Pupuk
·         7 Sinduran
·         8 Timbang
·         9 Dhahar Klimah
·         10 Mertui
·         11 Sungkeman
·         12 Kendurèn / resèpsi
o    12.3 Pemaes
·         13 Uga pirsani
Siraman

Acara siraman iku sejatiné upacara perlambang kanggo ngresikake
 jiwa calon pengantèn. Upacara iki diselenggarakaké sedina sadurungé ijab kabul lan dilakokaké ing omahé calon pengantèn putri lan kakung, padatan ing bageyan omah sing rada amba kaya ing mburi omah utawa ing taman ngarep omah. Sing nyiram sepisan padatan wong tua calon mantèn banjursedulur liyané uga kalebu pemaes.
ꦩꦶꦢꦺꦴꦢꦫꦺꦤꦶ==Midodaren== Kanggo tulisan luwih gamblang prakawis iki mangga pirsani: Midodaren
Tembung midodaren iku asale saka
 basa Jawa yaiku widodari utawa bidadari neng basa Indonesia. Acara iki duwe kekarepan yen mbengi sakdurunge acara mantenan iku, kabeh para widadari mudhun saka suwarga kanggo aweh pengestu uga kanggo pralambang yen sesuk neng acara utama, penganten putrine bakal ayu kaya widodari.
Neng acara iki penganten putri ora metu saka kamar wiwit jam 6 sore nganti tengah wengi lan dikancani dening sedulur-sedulur putrine sing ngancani sinambi aweh nasihat.
Rerangken acara neng wengi midodaren iki séjé-séjé ing saben dhaérah, kadhang ana sing dibarengaké karo acara peningsetan lan srah-srahan.
Srah-srahan
Srah-srahan iku uga diwastani "asok tukon" yaiku calon pengantèn kakung mènèhaké uba rampe lan ragat sing bakal kanggo ngleksanakaké pahargyan penganténan. Tuladhané uba rampé, kayata: beras, sayuran, pitik, jajan pasar lan liya-liyane. Saliyané iku sing paling penting ana ing pepasrahan yaiku dhuwit sing tumprapé kanggo ngragati upacara pahargyan ing omahé pengantèn putri.
Upacara panggih
Sarampunge acara ijab kabul (akad nikah)dianakake acara Panggih. Ing acara iki kembang mayang digawa metu saka omah lan didelehake neng prapatan cedhak omah. Tujuané yaiku kanggo ngusir roh jahat. Sawise iku pengantèn putri ketemu (panggih) karo pengantèn kakung kanggo nerusaké upacara: balang suruh, Wiji dadi, Pupuk, Sinduran, Timbang, Kacar-kucur, Dhahar klimah, Mertui, lan Sungkeman.
Upacara balangan suruh
Upacara balang suruh minangka pralambang sih katresnan lan kasetyan ing antarané pengantèn kakung lan putri.
Upacara wiji dadi
Penganten kakung ngidak endhog pitik nganti pecah, banjur pengantèn putri misuhi/ngresiki sikil/ampeyané pengantèn kakung nganggo banyu kembang. Upacara iki minangka prelambang sawijining kepala kaluwarga sing tanggung jawab marang kaluwargane.
Pupuk
Ibu pengantèn putri ngusap-usap sirah/mustaka mantu kakung minangka tandha ikhlas nampa manten kakung mau dadi bageyan kulawargane.
Sinduran
Lumampah alon-alon kanthi nyampirake kain sindur, minangka tandha pinangantèn sak kloron wis tinampa dadi kulawarga.Sinduren saking tembung sin -isin ndur mundur ing kono anggadahi arti selendang ingkang warnanipun abit (abang)kadhapuk kalianpethak ingkang nglambangake persatuan sakinng bapak lan ibu.
Timbang
Pinangantèn sak kloron lungguh ing pangkonané bapaké pengantèn putri, minangka perlambang katresnané wong tuwa marang anak padha karo mantu.
Dhékorasi
Dhékorasi dipasang ing dalemé sing duwé gawé, wujudé werna-werna.
Dhahar Klimah
Pengantèn kekalih dhahar dulang-dulangan minangka pralambang pinangantèn kekalih arep urip susah lan seneng kanthi bebarengan.
Mertui
Wong tuwane pengantèn putri methuk wong tuwané pengantèn kakung ing ngarep omah lan bebarengan tindak menyang acara resepsi.
Sungkeman
Pinangantèn sak kloron sungkem nyuwun pangèstu marang wong tuwa kekalih.
Kendurèn / resèpsi
Kendurèn utawa kenduri iku dadi puncak acara pengantènan, uga kadang diarani resèpsi utawa walimahan. Sejatiné kagiyatan iki nduwé makna upacara slametan, slamet merga inti acarane yaiku ijab kabul wis rampung diselenggarakaké. Ing acara iki, pasangan pengantèn nrima mangayubagya saka sedulur, kanca uga kabeh sing teka ing acara iki.
Dhékorasi
Dhékorasi dipasang ing dhalemipun ingkang gadhah dhamel, wernané wonten kathah.
Masang Tarub
Masang tarub gumantung marang kahanan ing dalemé sing duwé kajad.
Pemaes
Upacara paesing calon pengantèn putri ing wanci sabibaripun upacara siraman, kajibahan ditindhakke juru paes utawi dhukun pengantèn.
Uga pirsani
Ningali calon pengantèn putri ing griya tiyang sepuhipun.



Urutan Tatacara Mantu Minurut adat Jawa


Wong Jawa kuwi pra mligi ana ing Kabupaten Blora thok. Semono uga wong mantu ya ora mung siji tatacarane. Tlatah siji lan sijine mesthi duweni paugeran kang beda. Tatacara mantu ing Blora, Orang padha karo ing Semarang beda karo ing Surabaya, lan liya-liyane. Ing Ngisor iki salah sijine tuladha urutan tatacara mantu ana ing jawa, yaiku :
Lamaran
Sing nglamar wong tuwane calon penganten lanang. Calon penganten lanang ora kena melu, amarga yen ditampik ben ora isin.Iku dilako'ake kanggo tandha resmi yen pihak kaluarga calon manten putri utamane wongtuane isa nerima calon manten kakung dadi pasangan urip putrine.
  • Sing Dilamar
Sing mangsuli lamaran wong tuwane bocah wadon dhewe,epepet wong tuwane ora bisa, kena diwakili sedulure sing cedhak.
  • Wanci (Wektu) Lamaran
Ditemtokake dinane, tanggal, waktu, lan jumlahe wong sing arep mara (dadi kudu disetujoni saka keluarga temanten lanang lan keluarga penganten wadon)
Tatacara Siraman
Sedina sedurunge tempuking gawe, dianakake tatacara siraman kang pamrihe (tujuane) supaya calon pengenten loro-lorone bisa suci lahir batine, ilang rereged rekating awak lan ati sarta kabeh alangane, Tatacara ing siraman iku nganggo dodol dhawet. Iki duweni pralambang lan pangajab supaya ing upacara dhaupe pengenten suasanane bisa rengeng.
  • Sing Dodol Dhawet
Ibune penganten putri, dene bapake mayungi ibune, karo nyeyuwun ing ngersane Gusti Kang Maha Agung, muga-muga uripe calon penganten bisa sesrawungan karo liyan lan seneng dedana. Sing nukoni dhawet yaiku para tamu lan dhuwite kanggo tuku nganggo dhuwit kreweng/wingko (pecahan gendheng)
  • Wardine (tujuane) dodolan dhawet yaiku:
Wong omah-omah iku lanang wadon nggayuh jejege bale wisma (bale omah), supaya tundhone padha-padha marem ing ati (ayem, tentrem,bahagia)
  • Wardine Dhuwit Kreweng
Kreweng (pecahan gendheng) iku digawe saka lemah, amarga manungsa iku asale ya saka lemah kan lantaran bapa biyunge, asale saka Gusti Allah.

Wardine Kembang Mayang
Dianggo panyuwunan amrih lakuning penghargyan bisa rahayu slamet ora ana alangan apa-apa.
  • Kembar Mayang Iku Ono Loro
Werdine sing siji kanggo pralambang lanang, lan sijine maneh kanggo pralambang wadon (putri), supaya panganten loro-lorone bisa kembar tresna, lan kembar cipta, rasa lan karsane
  • Janur Kuning
Janur saka tembung Jan+Nur Nur tegese cahaya Jan tegese sak nyatane utama sakbenere Dadi janur tegese cahaya sejati kang diparingake gusti kang maha Agung.
  • Wardine Janur Kuning*
Supaya pengenten sarimbit tansah entuk cahaya sejati saka Gusti, kang awujud perentah (wewarah) lan ngedohi larangane agama, supaya dadi keluarga sakinah.
Werdine Pisang Raja Kang Wis Suluh
Supaya bisa duweni wataking raja, yaiku tansah tanggung jawab, berbudi bawa laksana, tresna asih marang kluwargane, lan suka dedona, ing tembene bisa dadi tepa-tuladhaning sapdha-padha
Cengkir Gadhing
Ing sakjroning cengkir gadhing iku isi banyu kang wening. Muga tresnane penganten kaloro tilambaran weninging cipta rasa lan karsa satemah uripe atutruntut rerentengan, golonganing budi saekapraya ing pakarya, saekapti ing pakarti.
Tebu Wulung
Yen dijarwakake tebu : antebing kalbu Kalbu : ati, galih Dadi werdine tebu wulung yaiku manunggaling temanten sarimbit satuhu linambaran antebing ati lan dipangestuni marang para pinisepuh, sesepuh kadang lan sanata. Tebu wulung iku tebu sing kuwat (santosa) tegesing kasantosaning brayat (kluarga) bisa digayuh menawa linambaran tresna kang suci.
Pari Sak Wuli
Werdine supaya pengenten sakloro bisa tansah kecukupan ing pangan (boga), seneng nandur kabecikan, lan diparingi anak serta ngajeni marang liyan.
Kembang lan Wohing Kapas
Werdine kembang kembang iku dadi pepenging wong akeh. Muga-muga penganten sarimbit dadi pepengene wong akeh amarga uripe ayem tentrem, bagya mulya.
Werdine Kapas
Supaya pengentin sakloro tansah kecukupan ing sandhang. Godhong apa-apa lan suket alang-alang Minangka pralambang manawa tumpaking gawe saka wiwitan tumeka ing rampunging gawe bisa kaleksanan kanthi lancar, slamet, ora ana alangan apa-apa.
Godhong Kaluwih lan Godhong Waringin
Minangka pralambang supaya uripe penganten sakloron tansah pinaringan kaluwehan sandhang pangan sarta wibawa, lan dadi pangayoman tumpraping liyan, luwih-luwih marang sanak kadhang lan kanca (mitra)
Jeneng ageman anggon-anggon wiwit saka sirah, tangan, tekan sikil (suku) yaiku:
  • Blangkon yaiku : iket sing bisa ditata lan didandani kari nganggo
  • Beskap yaiku : Klambi saemper jas cekak
  • Jarik yaiku : Kain amba wuju bathik kanggo tapihan (jarikan)
  • Wiru yaiku : Lempitan kanggo jarik
  1. Wiru kanggo putri cacahe : 5
  2. Wiru kanggo kakung cacahe : 7
Keris yaiku
Gaman (pusaka) khas wong jawa. Wong kang ngagem busanan kejawen, karo nyengkilit keris ing geger, iku ngemu teges nengenake watak satrya.


Contoh Geguritan

Raden Ajeng Kartini

Sanajan panjenengane wanita
Nanging gelem rekasa
Sanajan dipingit wong tuwa

Atine tetep mbela
Mbela kaum wanita
Aja nganti kalah prakosa

Jejere wanita
Kudu tetep siyaga
Ngowahi nasibe bangsa

Nurunake nasibe bangsa
Duwea wawasan kang jembar
Kanggo nggayuh lintang kang sumunar


Sekolahku

Sekolahku…
Rupamu saiki duduk sekolah maneh
Nanging kowe saiki arupa panggonan kang rusuh
Kelas, pekarangan, pada karo kandange petek

                     Sekolahku…
                    Keadaanmu mulai bien ora berubah-berubah
                  Sampah-sampah sing kleleran tetep ora bisa di berantas
                 Kapan keadaanmu iso berubah…nasib…nasib…

Saiki sopo sing bisa di salahake…??
Tukang nyapu-nyapu wis di kerjo professional banget
Clotehan guru wis bekbanget ditokno
Lek ngno murid-e sing salah, ora bisa taat marang aturan

              Jadwal wis digawekno lan ditempel ndek kelas
             Kanggo murid supaya ngelasanakno tugas piket_e
           Ora kanggo pajangan para cecek sing mrambat ndek tembok
         Amarga iku laksanakno tugase dewe-dewe

Arepan sekolah,Arepan ku pisan
Resik, Enak kanggo belajar…
Murid-murid akeh sing berprestasi…
Kabeh iku arep-arepane sekolah

                                Resik sekolahku
                                Enak belajarku
                                Konsen belajarku

                                Podo moro prestasine.