Senin, 04 Mei 2015

Jiwa Dalam Goresan Tinta

Nih aku ada cerbung horror...
Tapi bukan buatanku...
Ini buatan kakakku...
Happy Reading guys...

Oleh : Ika Listya Mahanani : hanakurizuka.blogspot.com

    Takkan ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Jika kita mau mengerti, tidak ada yang pasti di dunia ini. Segalanya bisa saja berubah tanpa kita sadari. Hanya satu hal yang harus kita percaya, tidak ada yang tidak mungkin.
13 Juni 1962
    Aku menemukan untaian kata itu di dalam secarik kertas, terselip pada buku tahun 60-an yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sekolahku. Buku tanpa judul ini menimbulkan sejuta pertanyaan di benakku. Ku temui buku ini hanya ada satu. Itupun sudah tampak lusuh, seperti sudah tidak pernah dipinjam lagi oleh seseorang. Ku coba membuka buku itu dari halaman awal. Tulisan yang ada di dalamnya seperti bukan diketik, tetapi menggunakan goresan tinta dengan gaya tulisan zaman bahula. Aku pun mulai membaca. Namun entah kenapa tiba-tiba aku....

    Aku melihat beberapa orang menjalani kesibukannya. Mereka, dengan memakai pakaian yang sangat rapi, menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang datang. Tanpa aku sadari, aku berada di sebuah tempat dimana begitu asing bagiku. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat sosok gadis kecil yang tampak begitu sedih. Aku menghampiri gadis itu. Namun ketika aku berusaha menyapa, ia menampakkan sorot wajah kebencian padaku.

 “Kamu?!! Kenapa kamu kesini?!! Kembalikan ibuku!!! Kembalikan!!” Gadis kecil itu menjerit histeris pa/!daku. 
“Ayah.... dia datang! Pembunuh itu datang!!”, teriak si gadis kecil.
Aku semakin tidak mengerti.
“Eee... pembunuh? Siapa yang pembunuh?”, aku pun mulai memberanikan diri bertanya. Tetapi ayah gadis kecil itu tampak semakin marah.
 “Heehh.. ku bunuh kau!! Ku bunuh kau!!” Dia mencekik leherku begitu erat sampai membuatku menjerit menahan sakit.

    Aku menghempaskan buku tak berjudul itu sampai ke sudut meja. Aku masih tidak percaya ini semua. Sekarang aku sudah berada di kamarku. Sekujur tubuhku dipenuhi keringat dingin. Tiba-tiba,aku melihat gagang pintu memutar dengan sendirinya. Jantungku seketika berdetak kencang, lebih kencang. Dan....
“Sayang, makan dulu sana. Mama tunggu di bawah.”
Aku mengambil nafas dalam-dalam seraya membuangnya. Aku segera merapikan meja belajarku dan menuju ke bawah.
“Lama banget sih,Ra! Semuanya udah pada nunggu tau!”, omel Kak Hendra.
“Mmm.... sorry deh,Kak.”, jawabku.
“Kamu kenapa keringetan kaya gitu? Abis ngapain aja sih di kamar?”, celetuk Kak Hendra lagi.
“Udah,udah. Jangan pada ribut. Ayo makan.”, ajak Mama.
Baru saja aku memulai suapan yang pertama, tiba-tiba Papa yang sedari tadi diam, angkat bicara.

“Oh ya, Ma. Dengar-dengar, sekarang ini banyak berita beredar soal pembunuhan. Dan katanya, modusnya ya pengen ngambil hati si korban untuk dijual.”
Aku sontak teringat dengan kejadian tadi pagi.
“Kalau memang begitu ya kita harus lebih waspada, Pa! Hendra, Maura, kalian juga gak usah keluar larut malam. Apalagi Maura, sama gengnya itu. Gak usah diulangi ya nak! Gak baik, anak cewek kok pulangnya malam-malam.”
“Tau tuh! Maura emang kaya gitu,Ma. Gayanya aja sok-sokan. Pasalnya mau berburu hantu lah.”
“Ihh... kakak! Apaan sih?!”
“Husst! Udah ah. Jangan bertengkar terus. Kaya anak kecil aja.”, kata Mama sedikit gaul.
“Iya nih! Mama juga. Kok jadi gahol gitu sih?”, goda Papa.
Semua pun tertawa.

“Sayang, Papa punya film bagus nih!”
“Film apa, Pa? Jangan yang enggak-enggak, Pa. Hendra masih suci.”, kak Hendra ngebanyol.
“Hendra... Hendra. Dasar.”, kata Mama.
“Adikmu mana, Hen?”, tanya Papa.
“Tuh, di kamar.”
    Sementara mereka asyik bercanda ria, aku masih sibuk sendiri di kamar. Aku kemudian membuka buku itu.
“Sampai di mana tadi?”, tanyaku.
Aku membolak-balik buku seraya mencari batas halaman.
“Nah, ini dia.”
“Aku masih nggak ngerti. Apa yang terjadi dengan si gadis kecil? Dan apa yang membuatnya benci sama aku?”
Aku mulai meneruskan bacaanku.

Ciit...
Suara pintu terbuka..
“Sayang, kamu nggak ikut nonton? Filmnya bagus lho..!”, bujuk Mama.
(Hanya terjawab oleh gelengan kepala yang menunduk)
“Ya, udah.”, kata Mama, kemudian menghampiri Maura.
“Nak.... kamu kenapa dari tadi kok.....Aaaaa!!”
Mama Maura terkejut mengetahui bahwa yang diajak bicara sedari tadi bukanlah anaknya.Melainkan sosok gadis seumur Maura yang wajahnya telah hancur.

    Aku diam seribu bahasa. Arah pandangan semua orang tertuju padaku. Sorot matanya begitu tajam. Aku seolah-olah musuh bagi mereka semua.
Takk!! Sebuah batu mengenai kepalaku.
“Pembunuh sialan! Berani-beraninya kau menampakkan wajahmu disini?!”, caci seseorang.
“Dasar tidak tau malu! Keparat!”, timpal seseorang yang lain.
“Bagaimana kalau kita bunuh saja orang ini?”, usul beberapa orang yang lain.
    Dalam keadaan seperti ini aku bingung harus berbuat apa. Tak ada jalan lain selain pergi dari kepungan mereka. Aku berusaha lari menjauh dari kerumunan sementara mereka dengan senjatanya terus saja melukaiku.

 “Ada apa, Ma?”, Papa langsung menghampiri Mama.
“E...e..itu..”, jawab Mama masih tidak percaya.
“Ada apa sih, Maura?”, tanya Kak Hendra.
“Nggak tau..”
“Mama kenapa sih? Kok kayaknya ketakutan gitu? Disini kan ada Maura.”, Kak Hendra.
“Mungkin Mama kamu kelelahan. Dia butuh istirahat.”, Papa menimpali.
“Ya udah deh. Aku mau nglanjutin filmnya dulu”, celoteh Kak Hendra.
Papa lalu mengantar Mama ke kamarnya.
Sesampai di  ruang keluarga...
“Kak, Kak Hendra... tolong aku...Mereka semua ingin membunuhku”, tampak wajahku keluar di layar televisi. Kak Hendra pun terkejut
“Loh?? Tadi filmku...?? Kok jadi kaya gini? Pa...Papa..!!”
“Ya... ada apa?”
“Pa... coba lihat! Itu Maura kan, Pa?”
“Maura? Bagaimana bisa? Bukannya adikmu itu di kamar?”
“Pa... coba lihat lagi. Di tv itu, Maura pakai kalung Mama. Itu Maura, Pa”
“Kalau itu memang Maura, lalu yang di kamar tadi siapa?!”, tanya Papa kebingungan.
“Au ah, Pa! Aku mau tidur aja. Aku udah ngantuk. Mungkin kita salah liat”
    Ctett. Papa pun mematikan tv. Sementara sosok gadis sepertiku berhenti memperhatikan televisi yang sedari tadi ditatapnya lekat-lekat di atas tangga, seakan sorot matanyalah yang membuat adegan tadi muncul.
    Kak Hendra menuju kamarnya. Kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamarku. Namun, ketika ia sampai di depan pintu kamarku, seketika sekujur tubuhnya mendadak kaku. Sekelebat bayangan melintas di belakangnya. Rasa takut pun mulai muncul. Tak ada sepatah katapun yang dapat ia katakan selain bergegas lari ke kamarnya. Wiiiing....Jderrr!!!
“Hendra...Hendra... ku mohon tenangkan dirimu. Oke fix.”, katanya mencoba menghibur diri.
“Di malam yang sesunyi ini... aku sendiri... tiada yang menemani... Hanya di...”, nyanyian Kak Hendra seketika terhenti saat ia mendengar suara... CIIIITT.. Pintu terbuka dengan sendirinya.
“Ma... Mama! Ah, Mama nggak lucu ah! Kok aneh sih?” perlahan ia mendekati pintu untuk memastikan apakah benar itu Mama. Dan ternyata...
“Eh, Maura! Kok belum bobo? Ini kan udah malem”, Kak Hendra.
    Kak Hendra bingung karena tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh sosok sepertiku. Sampai-sampai Kak Hendra jengkel dan pergi meninggalkannya tidur. Langkah kaki sosok tersebut semakin pasti untuk mendekati Kak Hendra. Entah apa yang akan dilakukannya, perlahan tangan itu menuju leher kakakku seakan-akan ingin mencengkeramnya. “Aaaa...”, teriak Kak Hendra, tapi anehnya teriakan Kak Hendra hanya tertahan di mulutnya. Tatapan sosok itu semakin tajam, menyiratkan amarah. Hal itu memaksa Kak Hendra untuk menyingkirkan sosok tersebu dari tubuhnya. Tangan Kak Hendra hanya dapat meraba-raba untuk mengambil sebotol tinta yang kemudian dilemparkannya ke tubuh sosok tersebut. “Aaaaa....!!!1”, suara sosok itu yang kemudian menghilang, menyisakan tumpahan tinta hitam milik Papa.
Blaasst...
    Aku kembali pada duniaku. Kak Hendra bingung dan tidak percaya. Akuu terlihat pucat dan tak berdaya. Seluruh tubuhku berlumuran darah.
“Maura...? Maura! Kamu baik-baik aja kan?”
Belum sempat aku menjawab, penglihatanku mulai kabur hingga aku tak sadarkan diri.

“Maura... Maura...”
Suara itu membuatku terbangun.
“Kevin?”
“Kamu kenapa? Aku telfon nggak diangkat”, Kevin cemas.
    Aku terdiam sejenak. Aku melihat Kak Hendra dengan wajah penuh tanya. Tiba-tiba Kak Hendra berdiri.
“Kevin tolong jagain Maura. Gue mau keluar bentar”, katanya masih menyiratkan wajah penuh tanya. Aku masih memandanginya sampai ia pergi.
“Maura...”, Kevin memanggilku.
“Iya..”
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
Aku pun diam.
“Aku nggak yakin dengan apa yang telah dikatakan Mamamu. Katanya kamu jatuh dari tangga lah, trus mental ke kaca sampai kacanya pecah lah...”, Kata Kevin masih terus menatap mataku, seolah-olah ingin mendapatkan kebenaran dari sorot mataku.
Aku mulai berbicara.
“Ceritanya panjang. Tadi pagi aku pinjem buku dari perpus. Buku itu cuma ada satu. Anehnya lagi, buku itu belum dikasih judul. Sepertinya penulis begitu tergesa-gesa sampai dia lupa ngasih judul.Aku juga nemuin secarik kertas di dalamnya.
“Secarik kertas?”
“Hu’um. Dan saat aku membaca buku itu aku sudah berada di era lain, bukan di era kita sendiri. Kira-kira era 60-an. Seperti yang tertera pada secarik kertas itu. Semenjak itu lah, aku bertemu dengan orang-orang yang aneh. Mereka selalu mengataiku pembunuh, sedangkan aku sendiri bingung, siapa pembunuh yang mereka maksud?”
Kevin mengerutkan keningnya.
“Kamu pasti mikirnya aku ngada-ada. Iya, kan”, tanyaku sengit.
Kevin hanya bisa tersenyum mendengar pernyataanku.
“Nggak juga sih. Eh, besok kamu masuk kan?”
“Maybe”
“Kalau gitu, buku itu sekalian kamu bawa deh! Sama secarik kertas yang ada di dalemnya. Aku mau liat.”
“Boleh, boleh”
Tak ku sadari, Kak Hendra sedari tadi sengaja mendengarkan pembicaraanku dengan Kevin dibalik pintu.

    Di kursi taman, Kevin terus  saja tersenyum memandangiku entah kenapa. Aku jadi bingung sendiri menghadapinya.
“Kevin! Kamu kenapa sih? Dari tadi kok senyum-senyum sendiri?” #salting.
“Nggak apa-apa kok! Kamu cantik aja”
“Ha? Apa?”
“Nggak jadi. Mmm... mana bukunya?”
“Nih”
“Ni buku jadul banget ya? Ihh.. serem lagi covernya. Nggak ada sinopsisnya?”, sambil membolak-balik cover depan belakang.
Aku menggelengkan kepala.
“Payah! Buku ini pantesnya dibuang...”, belum sempat  Kevin membuang buku, dia menemukan secarik kertas jatuh dari buku itu. Kemudian ia membacanya.
“Ini yang kamu maksud?”
“Ya”
“Ya udah deh! Aku pinjem aja buku ini. Aku penasaran sama isinya.”
Kevin menyelipkan kertas tadi ke dalam buku asalnya.

    Malam ini begitu sepi. Gelap. Tak ada satupun cahaya di langit. Angin dengan mudahnya menyusup ke dalam kamarku. Sementara waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba ponselku berdering. Belum sempat ku lihat nama si penelpon, segera saja ku angkat.
“Halo..”
(hening)
“Haloooo” (masih saja hening)
“Ee... hai.. ini siapa?”
“Aku di belakangmu......”, suara di seberang membuatku terkejut.
“Aaa!!!”, belum sempat aku menoleh ke belakang, aku langsung saja teriak saking takutnya. Namun tak lama, aku mendengar suara tawa dari seseorang yang sepertinya aku kenal.
“Haha.. gitu aja takut”
“Kevin?”
“Iya sayangku...”
“Huh, apaan sih? Nggak lucu tau!”
“Hahaha iya deh, sorry... Udah maem belum?”
“Udah dong... dari tadi..”
“......” (Buku tanpa judul itu membuka sendiri tiap-tiap lembarnya)
“Kevin!”
“E, iya?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja. Bobo yuk!”
“Ayo..” :-/ aneh
“Met bobo... moga mimpi indah... muuach”
    Aku langsung menghentikan percakapan karena mataku sudah tidak tahan lagi ingin segera tidur.
“Dimana bukunya?”, Kak Hendra berdiri di ambang pintu memperhatikan meja belajarku yang sudah tidak ada lagi buku tanpa judul yang ingin dibacanya.

    Kevin mendekati buku misterius yang dia taruh di atas meja komputernya. Dia dapat melihat semakin jelas bahwa buku tersebut dapat membolak-balik halaman sendiri seakan-akan meminta Kevin untuk membacanya. Kemudian lembaran-lembaran itu berhenti bergerak, berhenti pada halaman tertentu. Perlahan Kevin mengambil buku itu dan mulai membacanya.
Blaasstt....
    Sebuah ruangan kosong. Hanya piano dan cermin yang dapat mengisi ruangan itu. Entah mengapa, penglihatan Kevin hanya terpaku pada piano. Raganya terasa tertarik untuk mendekati piano. Dia pun mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang pernah dimainkan oleh seseorang yang tak dikenalnya. Lagu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Namun tangannya seolah memaksanya untuk memainkan lagu itu. Tiba-tiba seorang wanita dewasa menemuinya.
“Kakak tahu ini salah Samantha, bukan salahmu. Aku mohon kuatkanlah hatimu.” Wanita itu memeluk Kevin, membuat Kevin tidak mengerti...
Siapa wanita ini? Siapa pula Samantha?, bisiknya dalam hati.
 Setelah wanita itu pergi meninggalkannya, dia mencoba bercermin pada sebuah cermin besar di ruangan itu. Dan apa yang dilihatnya... adalah seorang gadis cantik berwajah Belanda, bukan dirinya sendiri.
“Apakah ini yang telah dialami Maura?”
To be continue.....
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar