Nih aku ada cerbung horror...
Tapi bukan buatanku...
Ini buatan kakakku...
Happy Reading guys...
Oleh
: Ika Listya Mahanani : hanakurizuka.blogspot.com
Takkan ada yang bisa menebak apa yang akan
terjadi pada diri kita. Jika kita mau mengerti, tidak ada yang pasti di dunia
ini. Segalanya bisa saja berubah tanpa kita sadari. Hanya satu hal yang harus
kita percaya, tidak ada yang tidak mungkin.
13 Juni 1962
Aku menemukan
untaian kata itu di dalam secarik kertas, terselip pada buku tahun 60-an yang
baru saja aku pinjam dari perpustakaan sekolahku. Buku tanpa judul ini
menimbulkan sejuta pertanyaan di benakku. Ku temui buku ini hanya ada satu.
Itupun sudah tampak lusuh, seperti sudah tidak pernah dipinjam lagi oleh
seseorang. Ku coba membuka buku itu dari halaman awal. Tulisan yang ada di
dalamnya seperti bukan diketik, tetapi menggunakan goresan tinta dengan gaya
tulisan zaman bahula. Aku pun mulai membaca. Namun entah kenapa tiba-tiba
aku....
Aku melihat
beberapa orang menjalani kesibukannya. Mereka, dengan memakai pakaian yang
sangat rapi, menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang datang. Tanpa aku
sadari, aku berada di sebuah tempat dimana begitu asing bagiku. Tak jauh dari
tempatku berdiri, aku melihat sosok gadis kecil yang tampak begitu sedih. Aku
menghampiri gadis itu. Namun ketika aku berusaha menyapa, ia menampakkan sorot
wajah kebencian padaku.
“Kamu?!! Kenapa kamu
kesini?!! Kembalikan ibuku!!! Kembalikan!!” Gadis kecil itu menjerit histeris
pa/!daku.
“Ayah.... dia datang! Pembunuh itu datang!!”, teriak si
gadis kecil.
Aku semakin tidak mengerti.
“Eee... pembunuh? Siapa yang pembunuh?”, aku pun mulai
memberanikan diri bertanya. Tetapi ayah gadis kecil itu tampak semakin marah.
“Heehh.. ku bunuh
kau!! Ku bunuh kau!!” Dia mencekik leherku begitu erat sampai membuatku
menjerit menahan sakit.
Aku menghempaskan
buku tak berjudul itu sampai ke sudut meja. Aku masih tidak percaya ini semua.
Sekarang aku sudah berada di kamarku. Sekujur tubuhku dipenuhi keringat dingin.
Tiba-tiba,aku melihat gagang pintu memutar dengan sendirinya. Jantungku
seketika berdetak kencang, lebih kencang. Dan....
“Sayang, makan dulu sana. Mama tunggu di bawah.”
Aku mengambil nafas dalam-dalam seraya membuangnya. Aku
segera merapikan meja belajarku dan menuju ke bawah.
“Lama banget sih,Ra! Semuanya udah pada nunggu tau!”, omel
Kak Hendra.
“Mmm.... sorry deh,Kak.”, jawabku.
“Kamu kenapa keringetan kaya gitu? Abis ngapain aja sih di
kamar?”, celetuk Kak Hendra lagi.
“Udah,udah. Jangan pada ribut. Ayo makan.”, ajak Mama.
Baru saja aku memulai suapan yang pertama, tiba-tiba Papa
yang sedari tadi diam, angkat bicara.
“Oh ya, Ma. Dengar-dengar, sekarang ini banyak berita
beredar soal pembunuhan. Dan katanya, modusnya ya pengen ngambil hati si korban
untuk dijual.”
Aku sontak teringat dengan kejadian tadi pagi.
“Kalau memang begitu ya kita harus lebih waspada, Pa!
Hendra, Maura, kalian juga gak usah keluar larut malam. Apalagi Maura, sama
gengnya itu. Gak usah diulangi ya nak! Gak baik, anak cewek kok pulangnya
malam-malam.”
“Tau tuh! Maura emang kaya gitu,Ma. Gayanya aja sok-sokan.
Pasalnya mau berburu hantu lah.”
“Ihh... kakak! Apaan sih?!”
“Husst! Udah ah. Jangan bertengkar terus. Kaya anak kecil
aja.”, kata Mama sedikit gaul.
“Iya nih! Mama juga. Kok jadi gahol gitu sih?”, goda Papa.
Semua pun tertawa.
“Sayang, Papa punya film bagus nih!”
“Film apa, Pa? Jangan yang enggak-enggak, Pa. Hendra masih
suci.”, kak Hendra ngebanyol.
“Hendra... Hendra. Dasar.”, kata Mama.
“Adikmu mana, Hen?”, tanya Papa.
“Tuh, di kamar.”
Sementara mereka
asyik bercanda ria, aku masih sibuk sendiri di kamar. Aku kemudian membuka buku
itu.
“Sampai di mana tadi?”, tanyaku.
Aku membolak-balik buku seraya mencari batas halaman.
“Nah, ini dia.”
“Aku masih nggak ngerti. Apa yang terjadi dengan si gadis
kecil? Dan apa yang membuatnya benci sama aku?”
Aku mulai meneruskan bacaanku.
Ciit...
Suara pintu terbuka..
“Sayang, kamu nggak ikut nonton? Filmnya bagus lho..!”,
bujuk Mama.
(Hanya terjawab oleh gelengan kepala yang menunduk)
“Ya, udah.”, kata Mama, kemudian menghampiri Maura.
“Nak.... kamu kenapa dari tadi kok.....Aaaaa!!”
Mama Maura terkejut mengetahui bahwa yang diajak bicara
sedari tadi bukanlah anaknya.Melainkan sosok gadis seumur Maura yang wajahnya
telah hancur.
Aku diam seribu
bahasa. Arah pandangan semua orang tertuju padaku. Sorot matanya begitu tajam.
Aku seolah-olah musuh bagi mereka semua.
Takk!! Sebuah batu mengenai kepalaku.
“Pembunuh sialan! Berani-beraninya kau menampakkan wajahmu
disini?!”, caci seseorang.
“Dasar tidak tau malu! Keparat!”, timpal seseorang yang
lain.
“Bagaimana kalau kita bunuh saja orang ini?”, usul beberapa
orang yang lain.
Dalam
keadaan seperti ini aku bingung harus berbuat apa. Tak ada jalan lain selain
pergi dari kepungan mereka. Aku berusaha lari menjauh dari kerumunan sementara mereka
dengan senjatanya terus saja melukaiku.
“Ada apa, Ma?”, Papa
langsung menghampiri Mama.
“E...e..itu..”, jawab Mama masih tidak percaya.
“Ada apa sih, Maura?”, tanya Kak Hendra.
“Nggak tau..”
“Mama kenapa sih? Kok kayaknya ketakutan gitu? Disini kan
ada Maura.”, Kak Hendra.
“Mungkin Mama kamu kelelahan. Dia butuh istirahat.”, Papa
menimpali.
“Ya udah deh. Aku mau nglanjutin filmnya dulu”, celoteh Kak
Hendra.
Papa lalu mengantar Mama ke kamarnya.
Sesampai di ruang
keluarga...
“Kak, Kak Hendra... tolong aku...Mereka semua ingin
membunuhku”, tampak wajahku keluar di layar televisi. Kak Hendra pun terkejut
“Loh?? Tadi filmku...?? Kok jadi kaya gini? Pa...Papa..!!”
“Ya... ada apa?”
“Pa... coba lihat! Itu Maura kan, Pa?”
“Maura? Bagaimana bisa? Bukannya adikmu itu di kamar?”
“Pa... coba lihat lagi. Di tv itu, Maura pakai kalung Mama.
Itu Maura, Pa”
“Kalau itu memang Maura, lalu yang di kamar tadi siapa?!”,
tanya Papa kebingungan.
“Au ah, Pa! Aku mau tidur aja. Aku udah ngantuk. Mungkin
kita salah liat”
Ctett. Papa pun
mematikan tv. Sementara sosok gadis sepertiku berhenti memperhatikan televisi
yang sedari tadi ditatapnya lekat-lekat di atas tangga, seakan sorot matanyalah
yang membuat adegan tadi muncul.
Kak Hendra menuju
kamarnya. Kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamarku. Namun, ketika ia
sampai di depan pintu kamarku, seketika sekujur tubuhnya mendadak kaku. Sekelebat
bayangan melintas di belakangnya. Rasa takut pun mulai muncul. Tak ada sepatah
katapun yang dapat ia katakan selain bergegas lari ke kamarnya. Wiiiing....Jderrr!!!
“Hendra...Hendra... ku mohon tenangkan dirimu. Oke fix.”,
katanya mencoba menghibur diri.
“Di malam yang sesunyi ini... aku sendiri... tiada yang
menemani... Hanya di...”, nyanyian Kak Hendra seketika terhenti saat ia
mendengar suara... CIIIITT.. Pintu terbuka dengan sendirinya.
“Ma... Mama! Ah, Mama nggak lucu ah! Kok aneh sih?” perlahan
ia mendekati pintu untuk memastikan apakah benar itu Mama. Dan ternyata...
“Eh, Maura! Kok belum bobo? Ini kan udah malem”, Kak Hendra.
Kak Hendra bingung
karena tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh sosok sepertiku.
Sampai-sampai Kak Hendra jengkel dan pergi meninggalkannya tidur. Langkah kaki
sosok tersebut semakin pasti untuk mendekati Kak Hendra. Entah apa yang akan
dilakukannya, perlahan tangan itu menuju leher kakakku seakan-akan ingin
mencengkeramnya. “Aaaa...”, teriak Kak Hendra, tapi anehnya teriakan Kak Hendra
hanya tertahan di mulutnya. Tatapan sosok itu semakin tajam, menyiratkan
amarah. Hal itu memaksa Kak Hendra untuk menyingkirkan sosok tersebu dari
tubuhnya. Tangan Kak Hendra hanya dapat meraba-raba untuk mengambil sebotol
tinta yang kemudian dilemparkannya ke tubuh sosok tersebut. “Aaaaa....!!!1”,
suara sosok itu yang kemudian menghilang, menyisakan tumpahan tinta hitam milik
Papa.
Blaasst...
Aku kembali pada
duniaku. Kak Hendra bingung dan tidak percaya. Akuu terlihat pucat dan tak
berdaya. Seluruh tubuhku berlumuran darah.
“Maura...? Maura! Kamu baik-baik aja kan?”
Belum sempat aku menjawab, penglihatanku mulai kabur hingga
aku tak sadarkan diri.
“Maura... Maura...”
Suara itu membuatku terbangun.
“Kevin?”
“Kamu kenapa? Aku telfon nggak diangkat”, Kevin cemas.
Aku terdiam
sejenak. Aku melihat Kak Hendra dengan wajah penuh tanya. Tiba-tiba Kak Hendra
berdiri.
“Kevin tolong jagain Maura. Gue mau keluar bentar”, katanya
masih menyiratkan wajah penuh tanya. Aku masih memandanginya sampai ia pergi.
“Maura...”, Kevin memanggilku.
“Iya..”
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
Aku pun diam.
“Aku nggak yakin dengan apa yang telah dikatakan Mamamu.
Katanya kamu jatuh dari tangga lah, trus mental ke kaca sampai kacanya pecah
lah...”, Kata Kevin masih terus menatap mataku, seolah-olah ingin mendapatkan
kebenaran dari sorot mataku.
Aku mulai berbicara.
“Ceritanya panjang. Tadi pagi aku pinjem buku dari perpus.
Buku itu cuma ada satu. Anehnya lagi, buku itu belum dikasih judul. Sepertinya
penulis begitu tergesa-gesa sampai dia lupa ngasih judul.Aku juga nemuin
secarik kertas di dalamnya.
“Secarik kertas?”
“Hu’um. Dan saat aku membaca buku itu aku sudah berada di
era lain, bukan di era kita sendiri. Kira-kira era 60-an. Seperti yang tertera
pada secarik kertas itu. Semenjak itu lah, aku bertemu dengan orang-orang yang
aneh. Mereka selalu mengataiku pembunuh, sedangkan aku sendiri bingung, siapa
pembunuh yang mereka maksud?”
Kevin mengerutkan keningnya.
“Kamu pasti mikirnya aku ngada-ada. Iya, kan”, tanyaku
sengit.
Kevin hanya bisa tersenyum mendengar pernyataanku.
“Nggak juga sih. Eh, besok kamu masuk kan?”
“Maybe”
“Kalau gitu, buku itu sekalian kamu bawa deh! Sama secarik
kertas yang ada di dalemnya. Aku mau liat.”
“Boleh, boleh”
Tak ku sadari, Kak Hendra sedari tadi sengaja mendengarkan
pembicaraanku dengan Kevin dibalik pintu.
Di kursi taman,
Kevin terus saja tersenyum memandangiku
entah kenapa. Aku jadi bingung sendiri menghadapinya.
“Kevin! Kamu kenapa sih? Dari tadi kok senyum-senyum
sendiri?” #salting.
“Nggak apa-apa kok! Kamu cantik aja”
“Ha? Apa?”
“Nggak jadi. Mmm... mana bukunya?”
“Nih”
“Ni buku jadul banget ya? Ihh.. serem lagi covernya. Nggak
ada sinopsisnya?”, sambil membolak-balik cover depan belakang.
Aku menggelengkan kepala.
“Payah! Buku ini pantesnya dibuang...”, belum sempat Kevin membuang buku, dia menemukan secarik
kertas jatuh dari buku itu. Kemudian ia membacanya.
“Ini yang kamu maksud?”
“Ya”
“Ya udah deh! Aku pinjem aja buku ini. Aku penasaran sama
isinya.”
Kevin menyelipkan kertas tadi ke dalam buku asalnya.
Malam ini begitu
sepi. Gelap. Tak ada satupun cahaya di langit. Angin dengan mudahnya menyusup
ke dalam kamarku. Sementara waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba
ponselku berdering. Belum sempat ku lihat nama si penelpon, segera saja ku
angkat.
“Halo..”
(hening)
“Haloooo” (masih saja hening)
“Ee... hai.. ini siapa?”
“Aku di belakangmu......”, suara di seberang membuatku
terkejut.
“Aaa!!!”, belum sempat aku menoleh ke belakang, aku langsung
saja teriak saking takutnya. Namun tak lama, aku mendengar suara tawa dari
seseorang yang sepertinya aku kenal.
“Haha.. gitu aja takut”
“Kevin?”
“Iya sayangku...”
“Huh, apaan sih? Nggak lucu tau!”
“Hahaha iya deh, sorry... Udah maem belum?”
“Udah dong... dari tadi..”
“......” (Buku tanpa judul itu membuka sendiri tiap-tiap
lembarnya)
“Kevin!”
“E, iya?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja. Bobo yuk!”
“Ayo..” :-/ aneh
“Met bobo... moga mimpi indah... muuach”
Aku langsung
menghentikan percakapan karena mataku sudah tidak tahan lagi ingin segera
tidur.
“Dimana bukunya?”, Kak Hendra berdiri di ambang pintu
memperhatikan meja belajarku yang sudah tidak ada lagi buku tanpa judul yang
ingin dibacanya.
Kevin mendekati
buku misterius yang dia taruh di atas meja komputernya. Dia dapat melihat
semakin jelas bahwa buku tersebut dapat membolak-balik halaman sendiri
seakan-akan meminta Kevin untuk membacanya. Kemudian lembaran-lembaran itu
berhenti bergerak, berhenti pada halaman tertentu. Perlahan Kevin mengambil
buku itu dan mulai membacanya.
Blaasstt....
Sebuah ruangan
kosong. Hanya piano dan cermin yang dapat mengisi ruangan itu. Entah mengapa,
penglihatan Kevin hanya terpaku pada piano. Raganya terasa tertarik untuk
mendekati piano. Dia pun mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang pernah
dimainkan oleh seseorang yang tak dikenalnya. Lagu yang tidak pernah ia ketahui
sebelumnya. Namun tangannya seolah memaksanya untuk memainkan lagu itu.
Tiba-tiba seorang wanita dewasa menemuinya.
“Kakak tahu ini salah Samantha, bukan salahmu. Aku mohon
kuatkanlah hatimu.” Wanita itu memeluk Kevin, membuat Kevin tidak mengerti...
Siapa wanita ini?
Siapa pula Samantha?, bisiknya dalam
hati.
Setelah wanita itu
pergi meninggalkannya, dia mencoba bercermin pada sebuah cermin besar di
ruangan itu. Dan apa yang dilihatnya... adalah seorang gadis cantik berwajah
Belanda, bukan dirinya sendiri.
“Apakah ini yang telah dialami Maura?”
To be continue.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar